RAPAT KOORDINASI TEKNIS MENDORONG KONVERGENSI PROGRAM PERCEPATAN PENCEGAHAN ANAK KERDIL (STUNTING) DI WILAYAH PRIORITAS

 

Jakarta, 4 Oktober 2019.

PENGANTAR.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia di bawah lima tahun (balita) sebagai akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia dua tahun. Anak tergolong Stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standard deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2018).  Menurut Resep Kesehatan Dasar (Reskesdas) Tahun 2013, sebanyak 37,2% atau sekitar 9 juta balita menderita Stunting.  Sebanyak 228 Kabupaten/Kota mempunyai Prevalensi Stunting antara 30-40% (tergolong tinggi). Hanya 8 Kabupaten/Kota (1,6%) yang mempunyai Prevalensi Stunting di bawah 20%, (tergolong sedang dan rendah).

Berbagai program terkait pencegahan Stunting telah diselenggarakan, namun belum efektif dan belum terjadi dalam skala yang memadai. Kajian Bank Dunia dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menemukan bahwa sebagian besar ibu hamil dan anak berusia di bawah dua tahun (baduta) tidak memiliki akses memadai terhadap layanan dasar, sementara tumbuh kembang anak sangat tergantung pada akses terhadap intervensi gizi spesifik dan sensitif, terutama 1.000 HPK.  Pembelajaran praktik baik internasional menunjukkan bahwa efektivitas penurunan Stunting ditentukan oleh intekrasi dan sinergi program. Seberapa menyeluruh program yang ada dan derajat integrasinya serta integritas dan kualitas program. Dengan demikian konvergensi program perlu menjadi basis pendekatan dalam pencegahan Stunting.

Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) atau Stranas Stunting, yang diluncurkan Wakil Presiden pada 12 Juli 2017, ditujukan untuk mengkonsolidasikan dukungan politis dan kepemimpinan di tingkat Nasional dan Daerah.  Memperkuat penyelenggaraan kerangka kerja kebijakan multi-sektor, mendorong konvergensi program-program Nasional,  Daerah, dan Masyarakat. Stranas Stunting ini terdiri dari lima pilar: (1) Komitmen dan visi kepemimpinan tertinggi negara; (2) Kampanye nasional dan komunikasi perubahan perilaku; (3) Konvergensi, koordinasi Program Pusat, Daerah, dan Desa; (4) Gizi dan ketahanan pangan; (5) Pemantauan dan evaluasi.  Stranas dan Stunting telah menetapkan 100 Kabupaten/Kota Prioritas Tahun 2018.  Pada Juli 2019 ditambah menjadi 160 Kabupaten/Kota Prioritas.  Hingga Tahun 2021 akan memperluas cakupan hingga keseluruh Kabupaten/Kota.

Tantangan utama penanganan anak kerdil (Stunting) di Indonesia adalah tidak terjadinya konvergensi pelaksanaan program dan kegiatan, sehingga berbagai program dan kegiatan penanganan Stunting yang tersebar melalui berbagai mekanisme pendanaan (APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, dan APBDesa) tidak terlaksana secara lengkap disuatu lokasi, dalam hal ini di tingkat Desa.

Untuk melakukan percepatan penurunan Stunting secara efektif diperlukan konvergensi antar program dan kegiatan.  Baik yang tergolong dalam intervensi gizi spesifik maupun intervensi gizi sensitif yang berasal dari berbagai sumber pembiayaan dari Pemerintah Pusat hingga Desa.

Langkah yang baru dilakukan dalam memastikan terjadinya konvergensi adalah memetakan seluruh program dan kegiatan serta sumber pembiayaan, baik untuk intervensi gizi spesifik maupun gizi sensitif di tingkat Kota dan Desa

Upaya pemetaan ini merupakan terobosan penting untuk memastikan terjadinya konvergensi program kegiatan yang berasal dari berbagai sumber pembiayaan dapat tersedia di tiingkat Kabupaten/Kota dan Desa. Walaupun baru pada tahap awal, pemetaan yang merupakan identifikasi program, kegiatan dan sumber pembiayaan merupakan langkah maju dalam upaya perencanaan penurunan Stunting.  Melalui pemetaan tumpang tindih antar program dan kegiatan dapat dihindari dan selanjutnya hasil dari pemetaan ini dapat digunakan untuk melakukan pemantauan terhadap program dan kegiatan.

Indonesia merupakan salah satu Negara dengan prevalensi anak kerdil (Stunting) yang tinggi. Tantangan terbesar dalam pencegahan Stunting adalah memastikan pelaksanaan program, kegiatan, dan sumber pembiayaan terkait pencegahan Stunting dapat terlaksana secara terpadu atau konvergensi di tingkat Kabupaten/Kota dan Desa.

Adanya konvergensi di tingkat Kabupaten/Kota dan Desa, pelaksanaan intervensi pencegah Stunting, baik intervensi gizi spesifik maupun intervensi gizi sensitif, menjadi efektif.  Dalam pelaksanaannya, konvergensi upaya percepatan pencegahan Stunting dilakukan mulai dari tahap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga pemantauan, dan evaluasi.

Dalam rangka mendukung upaya percepatan pencegahan Stunting, Sekretaris Wakil Presiden (Setwapres) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) III yang mengundang Kepala Daerah dan Pimpinan OPD terkait dari 105 Kabupaten/Kota Prioritas terpilih di Tahun ini. Pertemuan Nasional bertujuan memberikan pembekalan sehingga membantu pemerintah  Daerah dalam melakukan percepatan pencegahan Stunting di Daerahnya masing-masing

Generasi penerus bangsa harus sehat, cerdas, kreatif, dan produktif jika anak-anak terlahir Sehat. tumbuh dengan baik dan didukung pendidikan yang berkualitas maka mereka akan menjadi generasi yang menunjang kesuksesan pembangunan bangsa.  Sebaiknya jika anak-anak terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis, mereka akan menjadi anak kerdil (Stunting).

Kekerdilan (Stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bawah Lima Tahun).  Sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya.  Hal ini disebabkan karena kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun.  Dengan demikian periode 1.000 HPK seyogianya mendapat perhatian khusus menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang dimasa depan.

Pencegahan anak kerdil (Stunting) perlu koordinasi antara sektor dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti Pemerintah. Pemerintah Daerah, dunia usaha, masyarakat umum, dan lainnya.  Presiden dan Wakil Presiden telah berkomitmen untuk memimpin langsung Upaya Percepatan Penurunan Angka Prevalensi (Stunting).  Utamanya untuk meningkatkan cakupan dan kualitas intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif pada kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia 0-23 bulan atau rumah tangga 1.000 hari pertama kehidupan.

Menindaklanjuti Surat Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Sekretariat Wakil Presiden Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor B-1433/Setwapres/D-2/SB.01.01/09/2019, Hal : Koordinasi Teknis “Mendorong Konvergensi Program Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) di Wilayah Prioritas”. Sesuai surat tersebut, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kab. Mandailing Natal, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kab. Mandailing Natal mengikuti acara dimaksud.  Khusus pada sesi penutupan Bupati Mandailing Natal diundang untuk dapat hadir dalam acara Penandatanganan Komitmen Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) sekaligus penandatanganan keseluruhan Bupati/Walikota pada prasasti.  Selasa, 1 Oktober 2019 pukul 20.00 WIB sd. Selesai, bertempat di Hotel Borobudur Jalan Lapangan Banteng Selatan, Jakarta Pusat. Rapat Koordinasi Teknis Mendorong Konvergensi Program Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) di Wilayah Prioritas dibuka secara resmi oleh Deputi Bidang Koordinasi Kesehatan, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bapak Agus.  Ketua Panitia Asisten Deputi Pembangunan Sosial dan Penanggulangan Bencana, Setretariat Wakil Presiden menyampaikan tentang teknis pelaksanaan kegiatan.  Selanjutnya Deputi Bidang Pembangunan dan Pemerataan Pembangunan/Sekretaris Eksekutif TNP2K, Setretariat Wakil Presiden, Bapak Bambang Widianto, dalam Kata Sambutannya menyampaikan bahwa sebanyak 41% proporsi balita telah mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan ; sedangkan sisanya sekitar 59% menjadi kekhawatiran dan harus ditekan terus bagaimana anak mendapatkan yang seharusnya dalam rangka tercegahnya menjadi Anak Kerdil (Stunting).  Agar terlaksananya program Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) tepat guna dan sasaran maka perlu diadakan konvergensi pemetaan.

Adapun Kegiatan-kegiatannya pemaparan dari berbagai lembaga Negara, testimoni beberapa Pemerintah Daerah, dan latihan pemetaan.  Hari Kamis, 3 Otober 2019 pukul 20.00 WIB sd. selesai dan dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen oleh 105 Kepala Daerah yang menjadi undangan dalam acara ini.

Bapak Dr. Eduard Sigalingging, M.Si. Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia dalam pidato penutupannya mengingatkan bahwa salah dalam urusan Pemerintahan Kunkuren wajib dijalankan adalah Pelayanan Dasar, yang meliputi : Pendidikan, Kesehatan, PU dan Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Tramtibum dan Linmas, dan Sosial.  Oleh karena itu Prioritas Nasional dalam RKP Tahun 2020 salah satunya yang menjadi pusat perhatian adalah Pembangunan Manusia dan Pengentasan Kemiskinan.

Prioritas Pembangunan Manusia dan Pengentasan Kemiskinan meliputi : Perlindungan Sosial dan Tata Kelola Kependudukan, Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan, Pemerataan Layanan Pendidikan Berkualitas, Pengentasan Kemiskinan, dan Pembangunan Budaya, Karakter, dan Prestasi Bangsa.

Prioritas Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan meliputi : Peningkatan Kesehatan Ibu, Anak, Keluarga Berencana, dan Kesehatan Reproduksi, Percepatan Perbaikan Gizi Masyarakat, Peningkatan Pengendalian Penyakit, Penguatan Germas, dan Peningkatan Pelayanan Kesehatan dan Pengawasan Obat dan Makanan.

Berbicara Percepatan Perbaikan Gizi Masyarakat, maka prioritas kegiatannya adalah penurunan Stunting.

Selanjutnya Bapak Bambang Widianto, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan/Sekretaris Eksekutif TNP2K menyampaikan dalam pidato penutupannya (menutup secara resmi) bahwa ada lima pilar pencegahan stunting, yaitu : Komitmen dan Visi Kepemimpinan Nasional dan Daerah, Kampanye Nasional dan Komunikasi Perubahan Perilaku, Konvergensi Program Pusat, Daerah, dan Desa, Ketahanan Pangan dan Gizi, dan Pemantauan dan Evaluasi.

Indonesia termasuk salah satu Negara dengan tingkat Stunting yang tinggi.  Indonesia banyak biaya, Negara lain misalnya Afrika tidak sebanyak Indonesia namun Indonesia masih mengalami Stunting.

Bapak-Bapak Ibu-Ibu sekalian, kenapa Penurunan Angka Stunting ini perlu dipercepat dan menjadi prioritas karena secara research bahwa pada kurun waktu 25 tahun ke depan sejak HPK seorang anak yang mengalami Stunting tidak akan kompetitif dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami Stunting ketika mereka berlomba-lomba dalam menantang semua aspek kehidupan, ekonomi, teknologi, sosial budaya, dan lain-lain.

Kenapa hal itu bisa terjadi, bahwa kelemahan kita adalah kurangnya koordinasi antar lembaga tentang Kegiatan ini, setidaknya untuk menghindari terjadinya tumpah tindih Program/Kegiatan oleh antar lembaga, oleh karena itu sangat perlu dilakukan Konvergensi Program Pusat, Daerah, dan Desa.

Bapak Bambang Widianto, menutup secara resmi kegiatan ini.

Paparan dari Narasumber, LITERATUR, dan Testimoni Pemerintah Daerah, sebagai berikut:

PAPARAN.

Upaya Konvergensi Program/Kegiatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) – Bambang Widianto

 

 

Strategi Konvergensi Penurunan Stunting Pusat dan Daerah -Pungkas Bahjuri Ali

 

 

Pemanfaatan Berbagai Dana TKDD untuk Konvergensi Program/Kegiatan Pencegahan Stunting -Putut Ari

 

 

Menata Kembali PSD Percepatan Pencegahan Stunting -Eduard Sigalingging

 

 

Rakontek Stunting DJ Kesmas -Kirana Pritasari

 

 

Pengasuhan Stimulasi Pendidik PAUD dlm Percepatan Pencegahan Stunting -Agus

 

 

Pemanfaatan DD utk Mendorong Konvergensi Pencegahan Stunting di Desa -Ivan Rangkuti

 

 

Analisis Situasi Pemetaan dan Perencanaan Memastikan Prog Stunting -Irwan Suryanto

 

 

Integrasi Analisasi Situasi Pemetaan 8 Aksi Konvergensi -Zamhir

 

 

GAIN Emo Demo Intro

 

Strakom Stunting -Kominfo

 

 

Stratkom dan Kondisi Terkini

 

 

ECED Frontline Presentation Indonesia -Seameo

 

 

Pelaksanaan STBM yg Sensitif Gizi Melalui Kelas Pengasuhan Plan Indonesia

 

 

Worldbank 10 Steps Pamflet FAW (39,6x21cm)-1-2

 

 

 

LITERATUR.

Buku Saku Indonesia Sehat Bebas Stunting -DJIKP Kominfo dan Kemenkes

 

 

 

TESTIMONI PEMERINTAH DAERAH.

 

Stunting Prov. Jatim -Emil Wagub

 

 

Pengelolaan Stunting Kab. Bangka

 

 

Stunting Prov. NTT

 

Inovasi BumilKU Kab. Kulon Progo

 

 

Smart Kampung -Bappeda Banyuwangi

 

 

FOTO-FOTO.

 

By :

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Kabupaten Mandailing Natal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*