PEMBUKAAN ACARA PELAKSANAAN JAMBORE TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) XVIII TINGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2018 DI KOTA TEBING TINGGI.

Tebing Tinggi, 14 Oktober 2018.

 

Sesuai dengan Surat Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 412.6/9623, tanggal,  24 September 2018, Perihal : Pelaksanaan Jambore TTG XVIII Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018, maka pada hari ini Acara Pelaksanaan Jambore Teknologi Tepat Guna (TTG) XVIII Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018 dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Utara Bapak Edy Rahmayady, yang juga turut dihadiri oleh Direktur Pendayagunaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Teknologi Tepat Guna (TTG) Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Bapak Leroy Samy Uguy.

Kota Tebing Tinggi sebagai tuan rumah pada pelaksanaan Jambore TTG ini, Walikota Tebing Tinggi dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa Kota Tebing Tinggi baru tahun ini (Tahun 2018) mendapat nominasi nasional tentang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa yaitu Iva Test yang akan diumumkan pada acara Gelar TTG Nasional di Bali pada tanggal 19 Oktober 2018 nanti.  Selanjutnya disampaikannya bahwa apa yang Bapak/Ibu lihat tentang pakaian seragam batik yang dipakai oleh Panitia Tuan Rumah dan Panitia Provinsi merupakan home industri kerajinan masyarakat Kota Tebing Tinggi.

Dalam kesempatan selanjutnya, Bapak Leroy Samy Uguy dari Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Direktur Pendayagunaan SDA dan TTG juga menyampaikan kata sambutan.

Sehubungan dengan predikat Juara Umum Jambore TTG XVII Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017 dimenangkan oleh Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, maka piala bergilir sebagai lambang puncak tertinggi penghargaan prestasi TTG, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab. Mandailing Natal Bapak Alamulhaq Daulay, SH. menyerahkan piala bergilir tersebut kepada Gubernur Sumatera Utara yang selanjutnya disampaikan kepada Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Utara, dan Walikota Tebing Tinggi.

Bupati Mandailing Natal dalam surat resminya  (Nomor : 005.414/4078/DPMD/2018 Tanggal 12 Oktober 2018) menyampaikan maaf bahwa tidak dapat hadir dan diperwakilkan kepada Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Setdakab. Mandailing Natal sehubungan dengan iklim ekstrim di Kab. Mandailing Natal, yaitu tingkat intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya longsor dan banjir di sebagian daerah-daerah potensial, terutama di sekitar Jalinsum dan di sepanjang jalan menuju Pantai Barat.  Mohon maaf, hal ini membuat Kami tidak dapat hadir pada acara tersebut.  Semoga Jambore Teknologi Tepat Guna (TTG) XVIII Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018 sukses.

Gubernur Sumatera Utara dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat, oleh karena itu Saya sangat antusias.  Ke depan, kiranya Bupati/Walikota diharapkan dapat mengirimkan dutanya ke event Jambore TTG walau apa adanya.  Acara dilanjutkan dengan pengguntingan pita oleh Ny. Nawal Edy Rahmayady (Ny. Gubsu) di Pintu Masuk Stand Kota Tebing Tinggi sebagai tuan rumah acara Jambore TTG ini.

Kunjungan ke setiap stand dengan hikmad dilakukan oleh rombongan Gubsu yang terdiri dari Gubsu, Direktur Pendayagunaan SDA dan TTG, Walikota Tebing Tinggi, Kadis PMD Provsu, dan Bupati/Walikota se-Sumut atau perwakilkan.

Kunjungan rombongan untuk Stand Kab. Mandailing Natal sebagai penutup kunjungan ini.  Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Bapak Muhammad Ikbal, S. Psi. Dan para Inovator Kab. Mandailing Natal, yaitu : Monang, Ja’far, Dwi Rahman Syahputra, dan Mhd. Farhan telah dapat bertemu langsung dengan Gubernur Sumatera Utara, Dir. Pendayagunaan SDA dan TTG, Walikota Tebing Tinggi dan Kadis PMD Provsu.  Rombongan ini juga telah menyaksikan inovasi sang inovator Kab. Mandailing Natal berupa : kompor bio gas, pemancar radio portable, vacum cleaner, sirkulasi air pada mina padi, dan pisau okulasi.  Berupa produk seperti : pakan ternak konsentrat penggemukan sapi (Balitbang), tas dan sepatu dari bahan baku daun pandan (Dinas P3A), budidaya pohon buah Tin (Dinas Ketapang), pupuk organik dari daun kangkung untuk tanaman padi (Distan), keripik, sirup, dan selai dari mangrove (DKP), dan tepung mokaf dari bahan ubi untuk bahan baku kue (Posyantek Nauli).  Produk Unggulan Khas Daerah, yaitu kopi Mandailing (binaan Dinas Ketapang), dodol Mandailing (produksi Desa Huta Siantar – Panyabungan), gula aren (Panyabungan Timur), dan kipang Mandailing (produksi Banjar Sibaguri – Panyabungan).

 

Untuk menambah wawasan berikut ini adalah pengertian dari Teknologi Tepat Guna.

Teknologi tepat guna adalah ada sebuah gerakan idelogis (termasuk manifestasinya) yang awalnya diartikulasikan sebagai intermediate technology oleh seorang ekonom bernama Dr. Ernst Friedrich “Fritz” Schumacher dalam karyanya yang berpengaruh, Small is Beautiful.  Walaupun nuansa pemahaman dari teknologi tepat guna sangat beragam di antara banyak bidang ilmu dan penerapannya, teknologi tepat guna umumnya dikenal sebagai pilihan teknologi beserta aplikasinya yang mempunyai karakteristik terdesentralisasi, berskala relatif kecil, padat karya, hemat energi, dan terkait erat dengan kondisi lokal.  Secara umum, dapat dikatakan bahwa teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.  Dari tujuan yang dikehendaki, teknologi tepat guna haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif seminimal mungkin dibandingkan dengan teknologi arus utama, yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari lingkungan.  Baik Schumacher maupun banyak pendukung teknologi tepat guna pada masa modern juga menekankan bahwa teknologi tepat guna adalah teknologi yang berbasiskan pada manusia penggunanya.

Teknologi tepat guna paling sering didiskusikan dalam hubungannya dengan pembangunan ekonomi dan sebagai sebuah alternatif dari proses transfer teknologi padat modal dari negara-negara industri maju ke negara-negara berkembang.  Namun, gerakan teknologi tepat guna dapat ditemukan baik di negara maju dan negara berkembang. Di negara maju, gerakan teknologi tepat guna muncul menyusul krisis energi tahun 1970 dan berfokus terutama pada isu-isu lingkungan dan keberlanjutan (sustainability). Di samping itu, istilah teknologi tepat guna di negara maju memiliki arti yang berlainan, seringkali merujuk pada teknik atau rekayasa yang berpandangan istimewa terhadap ranting-ranting sosial dan lingkungan.[8] Secara luas, istilah teknologi tepat guna biasanya diterapkan untuk menjelaskan teknologi sederhana yang dianggap cocok bagi negara-negara berkembang atau kawasan perdesaan yang kurang berkembang di negara-negara industri maju.  Seperti dijelaskan di atas, bentuk dari “teknologi tepat guna” ini biasanya lebih bercirikan solusi “padat karya” daripada “padat modal”. Pada pelaksanaannya, teknologi tepat guna seringkali dijelaskan sebagai penggunaan teknologi paling sederhana yang dapat mencapai tujuan yang diinginkan secara efektif di suatu tempat tertentu.

https://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_tepat_guna

 

By : Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*